Pergi

Semacam butuh semangat, tapi tak ada yang mengucapkan.

Semacam butuh senyuman, tapi tak ada yang berniat membahagiakan.

Hujan turun untuk ke sekian kali di bulan ini. Rasanya aku ingin berlari kemudian memeluk rinainya meski akan membasahi. Bersatu dengan rintik mengetuk bumi. Kemudian menjelma embun di pagi hari. Embun menetes, lalu hilang dimakan matahari. Hilang dan tak ada yang mencari. 

Sejatinya aku hanya lelah, hanya ingin mengakhiri lantas pergi.

– Hari ke-28 Bulan Oktober

Advertisements

Waktu

Kemarin kau bilang mempertahankan cinta tanpa balasan itu kebodohan.

Tapi hari ini kau bilang mencintai tanpa syarat itu adalah ketulusan.

Ahh, perihal hati. Aku juga tidak mengerti apa yang sebenarnya diingini. 

Berkali-kali kau bilang dia bukan pria yang baik. Tapi nyatanya kau selalu kembali berbalik. Memujinya lagi, dan lagi. 

Jangan katakan dirimu lemah, aku juga tau seberapa sulitnya melupakan apa yang senantiasa ada di hadapan. Melihat kembali bagaimana benteng pertahananmu dihancurkan.

Melupakan itu proses. Bukan seberapa cepat kamu lupa, tapi seberapa kuat kamu mampu mengingatnya tanpa ada rasa apa-apa. Hanya menganggapnya seperti memori kecil yang sama dengan yang lainnya.

Dalam jatuh-bangun usaha melupakan yang sudah kau mantapkan. Jangan sampai semangatmu kembali dipatahkan.

Agak sulit memang. Tapi jangan kau buat komitmen yang sudah kau tekadkan jadi dibatalkan. Lupakan saja cerita tentang es krim, muffin, dan segala hal manis yang datangnya dari dia. 

Kamu mencoba melupakan, dan biarkan waktu yang memulihkan. 

(…sedang memberi wejangan untuk diri sendiri…)

– Hari ke-19 Bulan Oktober

Bagaimana Bisa Lupa?

Melupakan tak semudah membalik telapak tangan

Memikirkannya tanpa merasa apa-apa itu sudah cukup kemajuan

Yang sungguh sial adalah ketika kamu berdiri di depan pagar rumahku. Baju biru muda berlengan panjang, dan celana pendek selutut. Earphone yang menggantung di telinga, serta motor yang terparkir tepat di samping tempatmu berdiri.

Juga bibirku yang tidak bisa diajak kompromi, bahkan aku tidak bisa mengendalikan senyumku sendiri. Jantungku berdetak lincah, dan aku jadi salah tingkah.

Ditambah suaramu yang perlahan masuk menggelitik gendang telinga, senyum yang terpatri di bibirmu itu membuatku jadi gila.

Kalau begini, bagaimana aku bisa lupa?

– Hari ke-15 Bulan Oktober

Setia

Puisiku habis, ditelan kata
Kata-ku habis, dimakan logika
Logikaku habis, dirampas cinta
Cintaku habis, katanya untuk membela setia

Setia itu penting, setia itu harus.
Tapi jangan sampai salah menerapkan kata setia
Setia kepada seseorang yang membuatmu jatuh berkali-kali
Setia kepada seseorang yang tidak peduli kepadamu sama sekali
Setia kepada seseorang yang menghancurkan hatimu beribu kali
Setia kepada seseorang yang hanya memanfaatkanmu setiap kali

Hahaa. Itu bukan loyal. Itu bebal!

– Hari ke-11 Bulan Oktober