21 – tangis


Memang selalu kuterapkan dalam hidup, untuk tidak menangis karena perasaan apalagi karena lelaki. Tapi, aku juga kan wanita. Tentulah adakalanya aku menangis bahkan untuk hal yang tidak terlalu penting (baca: lelaki).

Sekarang tanggal 21, untuk pertama kalinya air mataku menetes di bulan juli tahun ini. Dan sialnya, ini tentang perasaan.

Biar kuceritakan, aku sama sekali tidak pernah berharap dia akan berbalik menatapku kembali. Cukuplah aku menyemangatinya dari belakang, menatap nama dan nomor punggung yang tertera di pakaiannya.
Aku sama sekali tidak pernah berharap suatu hari dia menyapaku kembali. Cukuplah do’a kusematkan supaya dia sehat dan bahagia.
Yang kuharapkan, aku ingin sekali menjadi setidaknya setitik saja semangat dalam hidupnya. Aku ingin menjadi alasan dia untuk bangkit dan meniti masa depan yang lebih baik lagi. Tidak perlu menjadi alasan di balik senyumnya, melihatnya dari kejauhan saja aku bersyukur.
Ini bukan mengenai perasaan kagum atau istilah ‘suka’ yang kebanyakan orang pakai. Pasalnya, memang tak pernah ada perasaan yang relatif serius yang tertanam ataupun tumbuh. Aku sendiri menganggapnya sebagai obsesi.
Aku terobsesi membuat dia menjadi pemacu dalam setiap hal yang kulakukan. Semisal karena dia orang yang baik, maka aku terpacu untuk selalu berbuat baik. Jika mengarah pada kebaikan, tidak masalah kan?

Aku bukan orang yang percaya diri, sungguh! Aku selalu melihat kehebatan orang lain, namun hanya melihat sisi kelemahanku sendiri. Aku masih jauh dari kata baik. Tapi dia selalu bilang aku terlalu baik untuknya. Menyakitkan itu mungkin relatif, tapi bagiku ini lebih pedih dari sebuah tamparan keras. Maksudku, setidaknya tidak adakah alasan yang lebih bisa aku terima? Alasan yang lebih rasional dari sekadar terlalu baik.

Dia tidak jahat, bahkan tadi dia menyapaku dengan senyum dan anggukan singkatnya. Dia hanya belum membuka pikiran bahwa ada orang lain yang ingin menjadi semangat di dalam hidupnya.

Kemudian hujan turun, cukup deras, namun seperti biasa aku tersenyum mendapati kedatangannya. Seolah mengerti yang terjadi, hujan angkat bicara, ia berkata bahwa ia tak sudi menjadi metafora dari air mataku jika itu tentang pria. Ck~

Sudahlah, lagipula aku juga tak ingin hujan yang menyamarkan air mata yang menetes di pipiku. Saat ini yang kubutuhkan hanyalah sebuah novel melankolis yang menyayat hati. Sehingga jika orang-orang bertanya alasanku menangis, tanpa perlu susah payah aku akan bilang, ceritanya sedih sekali.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s