Amunisi


Sekarang ini senjata laki-laki adalah tatapannya, sementara senyumannya adalah amunisinya.

*

*

*

Aku melihat lelaki dari pemikirannya, sebab fisik akan menua sedangkan pemikiran akan mematang. Aku melihat lelaki dari tutur bahasanya, bukan yang pandai membuat rayuan namun lebih kepada yang berbicara dengan sopan.

Namun saat ini, senjata para lelaki adalah tatapannya. Sementara senyuman dijadikan amunisinya.

Dan orang-orang seperti dia hanya akan menarik pelatuk senapannya dengan perlahan, ia benar-benar fokus pada targetnya. Ketika ia rasa sudah tepat sasaran mulailah dia melancarkan aksinya. Tatapan tajam dan senyuman tipis. Duaarrr…

Mati aku.

Aku kalah lagi.

 

Advertisements

4 Comments

  1. Hai, Kak! Sebut saja Ay, dari garis 2000🙆

    HAHAHAHA INI BAGUS BANGEEET💛💛💛💛💛 SAMPE AKU SKRINSUT YA LORD (((aku ijin nge skrinsut ya hehehe))) (((terjengqang))) ini maaf ya, udah belom kenalan dateng ga woles.

    Tapi emang suka sebel sama cowok yang kalo senyum suka bikin batuknya kambuh 😦 Tetep nulis yaaa

    Salam, Ay

    Like

    Reply

    1. Hai, Ay!! Terima kasih sudah berkunjung~
      Ku juga line 2000, jadi sepertinya tak perlu panggil kakak hehehe

      Uhuhuu Terima kasihh~ Ku senang jika kamu suka ^^
      iyaiyaa skrinsut ajaa gapapa kok wkwk, santai ajaa hehee

      Nah, iya makanya. Awalnya cuma kontak mata biasa, terus tiba-tiba sudut bibirnya tertarik ke atas. Huft suka bikin mati di tempat, gatau mau ngapain huhuhu.

      Makasih juga supportnya~~

      Liked by 1 person

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s